Gula Melambung Paling Tinggi

Harga gula pasir kian bergejolak di pasaran. Hal ini semakin mengejutkan masyarakat, sebab jika dibandingkan dengan pergerakan harga kebutuhan lainnya, harga gula pasir melambung paling tinggi.

Di Pusat Pasar Medan dan di sejumlah grosir, harga kebutuhan pokok ini sudah menembus level rata-rata Rp 10.000 per kg. Kenaikan ini cukup drastis mengingat harga sebelumnya rata-rata Rp 8.000 – Rp 8.500 per kg.
Demikian terungkap dalam kunjungan Pj Walikota Medan H Rahudman Harahap didampingi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Basyrul Kamali, Dirut PD Pasar Mustafa Sutan Nasution, Muchtar Saad dari Bulog Sumut ke Pusat Pasar Medan dan Grosir di Jalan Sibayak Medan, Selasa (25/8).
Terhadap kenaikan harga gula pasir ini, Pemko, kata Rahudman Harahap, sudah mulai melakukan upaya-upaya stabilisasi harga. Dikatakan, pihaknya akan menggelar operasi pasar murah di 115 titik yang tersebar di 21 kecamatan mulai Rabu (26/8).”Setidaknya ini salah satu upaya untuk menstabilkan harga. Kami minta juga agar agen-agen gula pasir bisa menekan harga seminimal mungkin untuk dapat dijangkau masyarakat. Janganlah ikut-ikutan menaikkan harga,” cetus Rahudman.
Kadisperindag Basyrul Kamali mengatakan, pihaknya mulai melakukan upaya untuk menstabilkan harga gula di pasaran. “Ini memang sudah masuk dalam kajian kami. Mudah-mudahan dengan upaya yang dilakukan dapat menekan kenaikan harga,” jelasnya.
Upaya untuk menstabilkan harga ini juga dilontarkan Mochtar Saad dari Bulog Sumut. Memang, katanya, permasalah kenaikan harga gula telah menjadi masalah nasional dan bukan hanya di Sumut saja. “Namun dengan upaya yang kita lakukan, mudah-mudahan bisa menekan kenaikan harga,” jelasnya.
Tapi, menurut pedagang, harga gula justru akan mengalami kenaikan yang cukup drastis menjelang lebaran. “Saat itu banyak orang yang membuat kue dengan bahan baku menggunakan gula pasir,” terang Rudi salah seorang pedagang sembako di Pusat Pasar, Medan.
Sementara di pasar Simpang Limun harga gula pasir sudah mencapai Rp9800 per kilogram. Menurut pedagang, kenaikan harga itu terpaksa dilakukan karena stok untuk dijual juga kian menipis, sedangkan pasokan dari distributor juga tidak kunjung datang. Dalam satu hari, dia mengaku, bisa menjual hingga 2-3 goni gula pasir, dan diperkirakan jumlah tersebut akan meningkat lagi jika sudah mendekati lebaran Idul Fithri.
Namun meski harga gula terus bergerak naik, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut meminta konsumen tidak perlu khawatir dengan pasokannya. Pasokan komoditas ini untuk Sumut cukup dalam tiga bulan ke depan.
Kepala Seksi Pengadaan dan Penyaluran Barang Disperindag Sumut Idris Nasution mengatakan, kenaikan harga gula di pasar lokal sebenarnya disebabkan harga di pasar dunia yang juga bergerak naik. Dia mengakui kalau sebenarnya masa panen atau penggilingan sudah dilewati dan harga gula juga sudah turun. “Seharusnya sudah naik. Harga gula ini sepertinya sama dengan harga CPO,” ujarnya.
Dia mengatakan, kebutuhan gula di Sumut mencapai 23.000 ton per bulan. Pada 14 Agustus lalu, tercatat sisa stok gula di bulan Juli mencapai 57.986 ton untuk Sumut. Menurutnya, pada saat Ramadhan ini kebutuhan gula bisa meningkat mencapai 10%. Tapi, lanjutnya, konsumen tidak perlu khawatirkan masalah itu. “Kami sudah menyurati gubernur dalam hal pasokan gula, tinggal menunggu jawaban saja,” katanya.
Pengamat ekonomi dari Sumut, Muhammad Ishak mengatakan, Sumut pasti terkena cipratan situasi yang terjadi di pusat. Pasalnya, pasokan gula Sumut juga didatangkan dari Jawa. Menurutnya, bisa saja kondisi pasokan gula Sumut dalam beberapa bulan ini dalam kondisi aman, tapi pemerintah juga perlu memikirkan bagaimana pasokan untuk tahun depan.”Bisa saja hari ini pusat yang mengalami kesulitan, mungkin kita beberapa bulan ke depan. Pemerintah harus antisipasi cepat masalah ini sebelum terjadi kelangkaan gula,” katanya.
Pasokan dari PTPN2
PT Perkebunan Nusantara (PTPN) 2 mengaloksikan pasokan gula hingga sebanyak 25.000 ton untuk Sumut sepanjang tahun ini.
Selain 25.000 ton itu, Kepala Humas PTPN2 H Legino mengakui pihaknya juga menjual hasil gula mereka  sebanyak 4.000 ton kepada Bulog. Legino menjelaskan dari produksi itu total gula yang mereka hasilkan masih tergolong besar, yaitu sebanyak 29.000 ton untuk tahun ini. “Produksi gula ini merupakan hasil pengolahan dari dua pabrik gula PTPN2 yang ada di Sei Semayang dan Kwala Madu,” ujarnya.
Katanya, jumlah pasokan sebanyak 25.000 ton gula tersebut tidak langsung dijual oleh PTPN2 ke masyarakat tetapi  ke pihak distributor gula. Pihak distributor, katanya, selanjutnya yang melakukan penjualan secara langsung dengan masyarakat.
Legino menerangkan distributor tersebut ditentukan melalui proses tender terbuka yang dilakukan oleh PTPN2 yang berkantor di Tanjung Morawa tersebut.
Dia mengemukakan, kewajiban mereka yang menjual ke distributor dan Bulog merupakan kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah. PTPN2, katanya, mematok harga jual gula tersebut kepada distributor dengan harga Rp 7.505 per kilogram.
Legino juga mengatakan bahwa hingga saat ini areal tebu yang tertanam di PTPN ada sebanyak 11.800 hektar yang tersebar di antara Kabupaten Deli Serdang dan Langkat. Tebu ini, katanya, merupakan tanaman semusim yang kapasitas hasilnya sangat terbatas dengan masa panen yang biasanya satu kali setahun. Di samping itu proses pengolahannya menjadi gula juga membutuhkan waktu tergantung musim terutama musim pengering untuk meningkatkan kualitas rendemannya.
Terkait dengan kenaikan harga gula saat ini dipasar-pasar Kota Medan, Legino memaparkan bahwa persoalan kenaikan tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan PTPN 2. Mereka katanya hanya berkewajiban mendistribusikan gula produksi mereka dan bukan menjadi penentu harga gula untuk masyarakat.
Selain gula, harga tomat juga naik tajam, yakni dari Rp 4.000 per kg  sebelum memasuki bulan puasa menjadi Rp 8.000 per kg saat ini. Sejumlah jenis kebutuhan pokok lainnya juga naik, antara lain kentang dari rp 6.000 per kg menjadi Rp 8.00 per kg.
Namun harga cabai merah justru turun, yakni dari Rp 24.000 per kg sebelumnya menjadi Rp 20.000. Sementara harga kebutuhan lainnya normal seperti ayam boiler Rp 21.000 per kg, daging lembu Rp 60.000 per kg, daging kambing Rp 55.000 per kg, bawang merah Rp 12.000 per kg, beras kuku balam Tanjung Leidong Rp 7.700 per kg dan beras ramos Rp 60.000 per kg.

http://www.medanbisnisonline.com
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s